Perusahaan Private Equity Minati Bisnis Energi Terbarukan

0
530

Jakarta, geoenergi.co.id – Bisnis briket kelapa untuk kebutuhan ekspor menarik minat perusahaan private equity asal Indonesia PT Investa Stellar Dana Kelola (ISDK) milik Investa Grup untuk terjun kedalam bisnis tersebut. ISDK mengakuisisi sebagian saham sebuah perusahaan pengekspor briket kelapa.

Menurut Direktur ISDK Jhon Veter, briket kelapa merupakan bisnis energi terbarukan yang memiliki potensi pertumbuhan yang bagus, “saat ini energi fosil sudah banyak ditinggalkan. Briket kelapa bahan bakunya seratus persen lokal dan permintaan pasar luar negeri cukup bagus,” ujarnya pada wartawan, Sabtu (15/10).

Jhon Veter menuturkan, sebelum ISDK berinvestasi di perusahaan pengekspor briket kelapa ini, perusahaan tersebut mengirimkan dua kontainer per bulannya untuk memenuhi permintaan dari pasar Timur Tengah dan Eropa. Saat ini mampu mengirimkan 10 kontainer setiap bulannya. Ada pun satu kontainer berisi sekitar 20 ton briket kelapa.

Ditanya wartawan mengenai hal-hal yang dilakukan terkait pelonjakan produksi, ia menuturkan setelah ISDK masuk diperusahaan tersebut, ISDK melakukan mekanisasi dengan menambah mesin untuk optimalisasi produksi dan melakukan Standar Operational Procedure (SOP) untuk produksi dan pengiriman. “Mulai dari produksi, pencampuran briket hingga proses oven, kita menggunakan mesin,” terangnya.

Sedangkan pabrik pembuatan briket kelapa ada di Cikunir, Bekasi Jawa Barat. Dilahan seluas 1,5 hektar tersebut, bahan-bahan baku yang dikirim dari Gorontalo, Bondowoso, Bengkulu dan daerah lainnya masih berupa arang. Di Cikunirlah, arang diproses menjadi briket, dikemas dan siap kirim.

“Ada juga permintaan ekspor ke pasar Jepang, saat ini kami sedang mempelajarinya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat terealisir,” ujarnya. Jhon memaparkan keunggulan briket kelapa yang diantaranya memiliki kandungan kalori yang tinggi dan debu yang lebih sedikit dibanding batu bara.

Saat ini permintaan briket kelapa dari pasar nasional terbilang minim, hanya kurang dari sepuluh persen yag diproduksi dan dipasarkan ke pasar lokal. Direktur ISDK ini optimis dengan pertumbuhan energi terbarukan karena energi fosil sudah ditinggalkan banyak orang. “Kita harus mengoptimalisasi sumber daya alam Indonesia dan memberikan nilai tambah, tidak sekadar mengekspor bahan mentah keluar negeri. Dengan begitu, Indonesia juga mendapatkan banyak benefit,” tutupnya.

LEAVE A REPLY