14 Mahasiswa STTN Belajar X-ray Synchrotron Radiation

0
842
foto: humas

geoenergi.co.id – Pemanfaatan teknologi nuklir bukan saja untuk menghasilkan energi yang sering disebut dengan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, namun saat ini sudah mampu melakukan berbagai hal, diantaranya dapat mempelajari struktur protein untuk pengembangan obat baru, mekanisme terjadinya suatu penyakit, dan terapi kanker. Selain itu, dapat juga dimanfaatkan untuk analisis kualitas udara, tanah, limbah, pemuliaan tanaman, ternak dan sebagainya. Karakterisasi bahan mineral maupun bahan maju seperti material struktur nano, polimer dan bahan keramik cerdas, logam serta bahan magnetik, pencitraan realtime, juga dapat digunakan dengan memanfaatkan teknologi nuklir yang disebut aplikasi radiasi synchrotron.

Synchrotron adalah salah satu fasilitas radiasi elektromagnetik, khususnya sinar-X, yang besar (seukuran lapangan bola) dimana elektron yang dihasilkan dari sebuah linear accelerator (LINAC) dipercepat hingga mendekati kecepatan cahaya, menggunakan medan magnet kuat. Saat elektron berenergi tinggi tersebut didefleksikan (perubahan arah lintasan) dengan medan magnet, maka kelebihan energi dari elektron tersebut diemisikan menjadi cahaya elektromagnetik dengan spektrum energi dari cahaya infra merah hingga sinar-X berintensitas tinggi.

Synchrotron Light Research Institute (SLRI) yang berada di Technopolis of Suranaree University of Technology (SUT), Nakhon-Ratchasima, Thailand berdaya 1.2 GeV merupakan fasilitas synchrotron yang terbesar di kawasan Asia Tenggara dan telah dirintis pembangunannya sejak tahun 1996. Pemanfaatan serta kerjasama penelitian menggunakan fasilitas ini telah mulai sejak tahun 2011 oleh peneliti BATAN, Dr. Abdul Mutalib untuk bidang kesehatan dan farmasi, Prof. Dr. Muhayatun untuk analisis kualitas lingkungan dan Dr. Edy Giri Rachman Putra untuk karakterisasi bahan maju.

Tidak hanya peneliti BATAN yang berkesempatan memanfaatkan fasilitas synchrotron di Thailand ini. Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) pun telah pula memanfaatkan fasilitas ini untuk belajar mengenal lebih dalam dari sisi intrumentasinya seperti apa itu akselerator, radiasi synchrotron, bagaimana kerjanya dalam menghasilkan radiasi elektromagnetik, serta instrumen apa saja yang dipasang (beam line) termasuk pemanfaatan radiasi synchrotron serta aplikasinya untuk penelitian dan industri. Pengetahuan serta pengalaman tersebut didapat oleh mahasiswa STTN saat mereka mengikuti the ASEAN Synchrotron Science Camp yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh SLRI.

Sejak tahun 2014, sudah 14 mahasiswa STTN yang telah berpartisipasi mengikuti Science Camp tersebut, yaitu Fatmawati Nurcahyani, Mia Lestari Ayuningtyas, Risha Diah Ramadhani, Tri Wahyu Santoso (tahun 2014); Cipta Panghegar, Janice Nathania, Khusnia Normawati, Novita Wiwoho, Puji Astuti, Siti Hanna, Satrio Pradana (tahun 2015); Arif Budiman Adha, Hersandy Dayu Kusuma, dan Kanya Zatalini (tahun 2016).

Keikutsertaan mahasiswa STTN dalam Science Camp bersama mahasiswa perguruan tinggi ternama lainnya seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang dan lainnya adalah suatu kebanggaan tersendiri. Kiprah, kemampuan serta kapabilitas mahasiswa STTN semakin diakui secara internasional dalam iptek nuklir. Tak heran bila ada alumni STTN yang pernah mengikuti Science Camp mampu melanjutkan studi program magister-nya di luar negeri. Sebagai catatan, keikutsertaan mahasiswa STTN sampai dengan tahun 2016 ini, telah menggenapkan menjadi 14 mahasiswa dari keseluruhan 52 mahasiswa Indonesia, yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ASEAN Science Camp.

LEAVE A REPLY