BATAN Ditetapkan sebagai Lembaga Sertifikasi Person oleh KAN

0
751
foto: Batan

Jakarta, geoenergi.co.id. Pusat Standardisasi dan Mutu Nuklir (PSMN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) ditetapkan sebagai Lembaga Sertifikasi Person (LS Person) oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). LS person memiliki tugas dan fungsi melaksanakan sertifikasi personel di bidang ketenaganukliran. Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto menjelaskan, saat ini lingkup sertifkasi baru mencakup personel radiografi. Kedepan ruang lingkup akan ditambah, antara lain petugas dan supervisor iradiator, petugas analisis aktivasi neutron, dan petugas radioisotop dan senyawa bertanda.

“Kelak, semua kegiatan di bidang kenukliran masuk dalam lingkup LS person. Apalagi lingkupnya internasional, sehingga kalau sudah masuk ke era Masyarakat Ekonomi ASEAN, otomatis kita bisa berkompetensi dengan tenaga kerja luar negeri,” jelas Djarot saat konferensi pers disela-sela acara Launching LSP BATAN dan Temu Pelanggan 2017, Selasa (3/8) di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN, Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta.

Kepala PSMN, Budi Santoso menambahkan, BATAN telah melakukan sertifikasi personel radiografi sejak tahun 1999, baik personel di BATAN, maupun personel dari perusahaan-perusahaan yang bekerja di bidang uji tak merusak. Menurutnya, sertifikasi dari KAN sangat penting sebagai jaminan kepercayaan kepada seluruh stakeholders bahwa bekerja dengan radioaktif sangat mengutamakan keselamatan, keamanan, dan lingkungan.

BATAN telah mengajukan proses akreditasi sejak tahun 2016 dengan melewati berbagai tahapan, hingga pada tanggal 24 Mei 2017, KAN memberikan akreditasi BATAN sebagai LS Person dengan menerbitkan Sertifikasi Akreditasi nomor: LSP-010-IDN untuk lingkup Sertifikasi Personel Radiografi Level 1 dan Level 2.

Lebih lanjut Budi memaparkan, untuk memperoleh sertifikasi personel radiografi, personel harus melewati berbagai tes, antara lain administrasi, pendidikan minimal SMA dari jurusan eksakta dan STM, tes apttitude (bakat) megenai kecocokan seseorang bekerja di bidang radiografi, hingga mengikuti pelatihan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan BATAN. Selanjutnya, personel yang telah lulus pelatihan wajib menjalani uji teori dan praktek di PSMN BATAN.

“Untuk mendapatkan sertifikasi ini memang tidak mudah, karena kita bekerja dengan zat radioaktif. Maka personelnya harus tersertifikasi, BATAN pun harus tersertifikasi oleh KAN,” tambahnya.

Sejak tahun 1999 hingga sekarang, personel yang sudah memperoleh sertifkasi dari BATAN sebanyak 3.881 orang dari 6831 orang yang mengajukan sertifikasi. Dengan adanya sertifikasi dari KAN, sertifkasi dari LS Person BATAN diakui secara nasional dan internasional. Diantara mereka yang tersertifikasi telah bekerja di berbagai negara antara lain Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Kazakhtan.

“Di dunia international, sertifikasi LS Person di bidang radiografi yang diakui itu KAN (Indonesia) dan Amerika (ANSI dan IAS). PSMN menjadi satu-satunya LS Person bidang radiografi di Asia Pasifik dan Amerika Selatan,” tambah Budi.

Sementara Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Bambang Prasetya menjelaskan, BSN adalah lembaga pemerintah yang diberi amanat untuk melaksanakan standardiasi dan penilaian kesesuaian. “Standard artinya kita semua sudah tahu. Sedangkan penilaian kesesuaian adalah apakah standard yang diberlakukan, diaplikasikan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, dan bagaimana caranya, nah ini yang penting,” jelasnya.

BSN sebagai lembaga pemerintah yang memberikan akreditasi dan KAN sebagai perpanjangan tangannya, karena internasional mensyaratkan harus melibatkan stakeholders dan industri.

Menurutnya, saat ini banyak beredar sertifikasi ‘abal-abal’ yang tidak bisa dipertanggungjawabkan cara mendapatkannya. “Saya nggak mau ini (sertifikat ‘abal-abal’) masuk ke ranah yg scientific. LS Person BATAN adalah role model untuk high level,” tutupnya.(pam)

LEAVE A REPLY