SEM Asia: Tonggak Penting Kepedulian Generasi Muda Indonesia pada Energi Masa Depan    

0
93
Cikal Ethanol, mobil hemat energi hasil karya tim Cikal Ethanol dari ITB

Jakarta, geoenergi.co.id – Haviez Gautama, GM External Relations PT Shell Indonesia, menyebutkan bahwa partisipasi tim mahasiswa Indonesia di ajang  Shell Eco-marathon Asia menjadi tonggak penting bagi kepedulian dan keterlibatan generasi muda Indonesia pada isu-isu energi dan transportasi masa depan. Di antara tim mahasiswa Indonesia yang telah berpartisipasi pada ajang SEM Asia adalah tim mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang telah mengikuti ajang ini sejak SEM Asia diselenggarakan pertama kalinya pada tahun 2010 lalu. Bahkan beberapa tim dari ITB ini telah berhasil mencatat prestasi dengan meraih kemenangan pada ajang SEM Asia.

Tahun ini, tim mahasiswa ITB kembali  akan ikut serta pada SEM Asia 2018 yang akan berlangsung di Festival “Make The Future Singapore 2018”, sebuah festival yang menampilkan berbagai gagasan dan inovasi terkait dengan tantangan energi global untuk menghasilkan lebih banyak energi bersih dan rendah CO2. SEM Asia dan SEM Drivers World Championship Asia telah menjadi acara utama dari festival yang akan berlangsung di Singapura pada Maret 2018 mendatang.  Salah satu tim mahasiswa dari ITB yang akan mengikuti ajang ini adalah Tim Rakata Etanol dengan hasil karyanya yaitu mobil kategori Prototype berbahan bakar etanol.

Reza M. Ghifarry, Manager Tim Rakata Etanol ITB mengatakan bahwa pada tahun ini mereka akan  mengendarai mobil baru yang menggunakan rangka baru berbahan Chromoly yang dinilai lebih kuat. Selain menggunakan kerangka baru, tambah Reza, mobil ini juga akan dilengkapi dengan sistem kemudi baru yang nantinya akan memudahkan pengemudi berkendara di tikungan lintasan lomba. “Kami coba untuk membuat sendiri sistem kemudi baru untuk mobil ini. Ini adalah salah satu pengetahuan baru yang kami peroleh saat bertukar pikiran dengan peserta lain dari Thailand yang juga merancang mobil protitype berbahan bakar etanol di ajang SEM Asia lalu. ” Bagian lain yang juga mengalami penyesuaian adalah sistem pengapiannya. “Mobil ini sudah kami siapkan sejak 10 bulan lalu dan saat ini sudah mencapai 80 persen. Kami harapkan November tahun ini bisa kami uji cobakan pada sebuah ajang serupa di Indonesia.”

Lebih lanjut, Reza mengatakan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam menciptakan mobil prototype berbahan baku etanol adalah penyesuaian mesin dan ketersediaan etanol itu sendiri, sebab  etanol bukanlah bahan bakar yang banyak digunakan pada kendaraan umum. “Kami memilih etanol sebagai bahan bakar untuk mobil ini, karena kami ingin menjadi bagian dari  generasi muda yang ikut mengembangkan energi terbarukan di masa depan.” (pam)

LEAVE A REPLY