Proyek Infrastruktur Ketenagalistrikan di Banten Diresmikan

0
94

Banten, geoenergi.co.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, hari Kamis (5/10), mendampingi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meresmikan proyek-proyek infrastruktur ketenagalistrikan, senilai US$6,015 miliar di Provinsi Banten. Peresmian ini menunjukkan komitmen Pemerintah untuk terus bekerja guna memenuhi rasio elektrifikasi di Indonesia.

Proyek-Proyek yang diresmikan terdiri dari Pembangunan Terminal Batubara, Groundbreaking Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7, 9 dan 10 serta Peresmian PLTU IPP Banten.

Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa tiga tahun lalu, setiap melakukan kunjungan ke daerah, masyarakat selalu mengeluhkan kurangnya listrik. Namun, saat ini keluhan tersebut sudah tidak terdengar lagi.

“Tiga tahun yang lalu tiap saya pergi ke provinsi, keluhannya sama. Baik di Kalimantan, di Sumatera, NTB, NTT, Maluku, Papua ke Kabupaten juga, keluhannya selalu sama liatriknya kurang. Byar pet. Tetapi setelah tiga tahun, tahun ini saya muter lagi, saya ga mendengar lagi suara-suara itu,” ungkap Presiden.

Presiden juga menekankan pentingnya investasi, karena dengan banyaknya proyek pembangunan infrastruktur dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.

“Tadi dilaporkan Proyek PLTU Jawa 7 menyerap tenaga kerja kurang lebih 10 ribu. Kenapa investasi itu perlu, karena menyerap tenaga kerja, mengurangi pengangguran. Ini penting. Tahun ini sudah dibuka juga lowongan PNS (Pegawai Negeri Sipil) 43 ribu, pegawai BUMN (Badan Usaha Milik Negara) 17 ribu. Kalau tambah proyek-proyek seperti ini akan mengurangi pengangguran yang banyak. Kalau ditambah proyek-proyek besar seperti ini, Kalimantan ada, Sumatera ada, itu akan mengurangi pengangguran yang banyak,” tegas Presiden.

Di samping itu, Presiden juga memerintahkan kepada kepada PT PLN dan perusahaan-perusahaan mitra agar banyak mempekerjakan karyawan yang dari sekitar pabrik.

Presiden juga menekankan agar PT PLN lebih efisien agar harga listrik menjadi lebih murah dan terjangkau bagi masyarakat.

“Saya titip kepada PLN masalah efisiensi. Semua biaya-biaya yang ada dicek betul. Baik yang berkaitan dengan harga batubara, biaya transportasi untuk pengangkutan batubara dari sumatera ke jawa, kalimantan ke jawa, jangan dibolak-balik, sehingga biaya transportasinya menjadi tinggi. Kalau biaya sudah tinggi tidak efisien, bebannya yang menanggung masyarakat,” imbuh Presiden.

Sementara itu, Menteri ESDM Ignasius Jonan menjelaskan bahwa PLTU Jawa 7 memiliki tarif paling murah, yaitu 4,2122 sen per kwh, sehingga menjadi tanda tarif listrik yang terjangkau bagi masyarakat. Selain itu, proyek ini juga diperkirakan selesai lebih cepat dari waktu yang ditetapkan.

“Pembangkit PLTU Jawa 7 dibangun dengan tarif yang sampai hari ini itu paling murah, 4,2122 sen per Kwh. Dari estimasi Commercial Operation Date (COD) yang seharusnya April dan Oktober 2020, bisa maju sampai akhir 2019. Ini jadi landmark tarif listrik agar harga listrik kepada masyarakat bisa terjangkau,” jelas Menteri Jonan.

Menteri Jonan juga melaporkan bahwa PLTU Jawa 7 (Kapasitas 2000 Megawatt/MW) dapat melistriki 2 juta rumah tangga. Sementara jika PLTU Jawa 9 dan 10 (Kapasitas 2000 MW) beroperasi ditambah PLTU Banten (kapasitas 660 MW) juga beroperasi, maka dapat melistriki 4,6 juta rumah tangga.

“Proyek PLTU Jawa 7 kalau dikonversi ke rumah tangga yang menyerap listrik itu 2 juta rumah tangga. Kalau per rumah tangga dihitung 900 VA (Volt Ampere), dikurangi susut jaringan 8 sampai 9 persen, kira-kira 2 juta rumah tangga. Sementara untuk proyek PLTU 9 dan 10 akan segera dimulai. Kapasitasnya sama 2000 MW. Yang berikutnya PLTU IPP Banten milik PT Lestari Banten Energi sebesar 660 MW, jadi total kalau selesai dibangun 4.660 MW itu dapat mengaliri kira-kira 4,6 juta rumah, kira-kira 8 persen dari total pelanggan listrik yang ada di Indonesia. Hampir 10 persen, ini besar sekali,” jelas Menteri Jonan.

Menteri ESDM juga menjelaskan bahwa selain PLTU, dibangun juga terminal batubara (Coal Terminal) dengan kapasitas 20 juta ton per tahun. Terminal batubara ini akan menghemat trasnportation cost atau logistic cost pasok batubara khususnya untuk PLTU Suralaya. Diharapkan biaya operasional PLN dapat lebih efisien, sesuai arahan Presiden untuk tidak menaikkan tarif listrik.

Turut hadir mendampingi Presiden Joko Widodo dalam peresmian di antaranya Menteri BUMN, Rini Sumarno, Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir dan Gubernur Banten Wahidin Halim. (Pw/foto: Humas ESDM)

LEAVE A REPLY