Potensi Cadangan Minyak Indonesia Tinggal 11 Tahun

0
422
foto: istimewa

Surabaya, geoenergi.co.id – Kehadiran Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar ke acara Migas Goes To Campus (MGTC) di Fakultas Teknologi Industri,Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jumat (24/11) lalu banyak menarik perhatian mahasiswa ITS. Apalagi saat memberikan materi, Wamen Arcandra melontarkan pertanyaan awal ke mahasiswa, “Siapa yang percaya Indonesia kaya migas (minyak dan gas bumi)?”

Para mahasiswa sontak mengacungkan tangan saat mendengar pertanyaan Wamen. Beberapa mahasiswa berpendapat bahwa Indonesia kaya akan sumber migas.

Mendengar jawaban itu Arcandra pun menunjukkan faktanya, Indonesia saat ini memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 3,3 miliar barel.

“Posisi cadangan terbukti Indonesia dibandingkan negara lain, di bawah ya, peringkat 29,” ungkap Arcandra.

Arcandra pun kembali melemparkan pertanyaan, “Jika Indonesia memproduksi minyak sebesar 800 ribu barel per hari (bph) konstan sepanjang tahun, apa yang akan terjadi dengan 3,3 miliar barel tersebut?” Pertanyaan Arcandra pun langsung dijawab. “Sebelas tahun akan habis, Pak,” jawab salah satu mahasiswa.

Arcandra pun berkomentar, “Ini yang harus kita koreksi, dalam sebelas tahun kita sudah tidak mampu lagi mengambil oil, bukan habis. Karena apa? Kemampuan manusia sekarang untuk mengambil oil itu baru sekitar 30% sampai 50%, separuh lagi masih di dalam (perut bumi). Belum ada teknologi yang mampu mengambil (minyak) 100%. Belum ada. Sampai suatu saat nanti anak cucu kita mampu mengembangkan teknologi mengambil oil sampai 100%. Jadi tidak habis,” terangnya.

Usai memberikan pertanyaan, Arcandra melanjutkan penjelasan mengenai pengelolaan migas di Indonesia. Dirinya menilai, saat ini sistem pengelolaan migas di Indonesia tidak efisien, karena membutuhkan waktu hingga 15 tahun dari eksplorasi hingga akhirnya berproduksi. Kemudian Arcandra pun memperlihatkan data yang menunjukkan bahwa lifting minyak bumi yang selama beberapa tahun terakhir cenderung mengalami penurunan. “Kita memproduksikan minyak segini (sambil menunjuk kurva produksi minyak bumi yang sebesar 1,4 juta bph di 1994 menjadi 800 ribu bph di 2016). Sementara kebutuhan kita itu makin lama makin naik. Ini production kita makin lama makin turun, makin turun, makin turun, sampai 2015. Tahun 2016 kita berhasil naikkan. Tahun ini perkiraannya kita masih di level 800.000 bph Kalau tidak ada usaha yg signifikan, maka ini akan turun,” pungkasnya. (Pam)

LEAVE A REPLY