Indonesia Berlimpah Bahan Baku untuk Produksi Bioethanol Generasi Ke-2

0
415
foto: istimewa

Jakarta, geoenergi.co.id – Masyarakat dunia saat ini menghadapi dua masalah besar sebagai akibat meningkat pesatnya konsumsi bahan bakar fosil. Dua masalah tersebut yakni ketersediaan bahan bakar yang hampir habis dan masalah lingkungan dengan meningkatnya polusi udara dan pemanasan global. Situasi ini mendorong lembaga riset untuk melakukan penelitian terkait energi alternatif yakni Bioetanol. Untuk melihat proses dan hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkait Bioetanol Generasi ke 2, delegasi Republic of Korea (ROK)-ASEAN mengadakan kunjungan ke Pusat Penelitian Kimia LIPI pada Kamis, 1 Maret 2018 di Serpong.

Bioetanol dapat dihasilkan dari pati atau gula pada proses pembangkitan pertama dan dari biomassa lignoselulosa dengan proses generasi ke 2. Proses generasi ke 2 tercatat lebih ramah lingkungan, karena bisa mengurangi emisi CO2 lebih dari 90%. “Indonesia adalah negara besar yang memiliki sumber daya biomassa yang melimpah sebagai bahan baku untuk produksi bioethanol generasi ke 2. Selain itu, Bioetanol adalah bahan bakar alternatif yang terbarukan dan ramah lingkungan,” terang Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI.

Sementara itu, Haznan Abimanyu, Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI menjelaskan, LIPI telah berhasil mengembangkan proses pembuatan bioetanol berbahan baku tandan kosong sawit (TKS) dengan kapasitas 160 liter/ton TKS. “Bioetanol yang telah berhasil kami hasilkan memiliki konsentrasi 99,5% yang siap digunakan untuk bahan bakar pengganti bensin,” ungkap Haznan

Haznan mengungkapkan, pilot plant bioetanol G2 kami merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia dan menjadi bench-mark untuk proses produksi bioetanol berbasis lignoselulosa. “Saat ini kami juga mengembangkan produk-produk samping untuk meningkatkan nilai ekonomi proses produksi bioetanol,” terangnya.

Menurut Haznan, melimpahnya biomassa khususnya lignoselulosa di Indonesia membuka kesempatan besar terwujudnya bahan bakar yang dapat terbarukan dan ramah lingkungan. “Kami terus mengembangkan riset-riset bioefuel berbahan baku biomassa yang lebih cost-effective dan diharapkan terjalin kolaborasi antar negara ASEAN dan Republik Korea dalam penelitian dan pengembangan biofuel,”pungkasnya.

Sebagai informasi, Pusat Penelitian Kimia LIPI telah memiliki paten-paten terkait produk samping pengembangan bioetanol G2. Paten tersebut seperti karbon aktif dari lignin, senyawa antioksidan glutathione untuk kosmetik, dan proses pengolahan limbah bioetanol. Paten-paten yang dihasilkan dikelola oleh Pusat Inovasi LIPI sebagai aset Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dan terus diupayakan untuk dapat digunakan oleh industri. (pam)

LEAVE A REPLY