Dulux Bikin Mural di Tiang Jalan Layang Non Tol Antasari

0
659

Jakarta, geoenergi.co.id – Dulux, sebuah merek dari AkzoNobel, pada hari ini, Sabtu 10 Maret 2018, bangga dapat mendukung inisiatif dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menata dan membersihkan lingkungan serta melukis tiang kolong Jalan Layang Non Tol di Jalan Antasari Kota Administrasi Jakarta Selatan. Dasar pelaksanaan inisiatif ini adalah Instruksi Gubernur Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pelaksanaan Program Pengecatan Kolong Layang Jalan Layang Non Antasari, dengan tujuan mewujudkan kota yang tertata dan berseni. Pengecatan ini melibatkan siswa dari 64 SMA/ SMK yang dipilih oleh Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Kami dari AkzoNobel berkomitmen untuk memberikan warna bagi kehidupan masyarakat dengan membantu memperindah lingkungan tempat tinggal mereka melalui program Let’s Colour Indonesia. Kami percaya pada kekuatan transformasi warna yang dapat mengubah kehidupan dengan memperkaya serta membuat ruang tempat tinggal menjadi lebih berwarna, nyaman dan menyenangkan. Kami yakin kekuatan yang diberikan dari cat dapat membuat kehidupan sehari-hari kita sedikit lebih baik dengan cara yang tidak disangka-sangka sekaligus menghibur,” kata Jun de Dios, Presiden Direktur PT ICI Paints Indonesia (AkzoNobel Decorative Paints Indonesia).

Dulux

Lebih lanjut Jun mengungkapkan rasa senangnya bisa berkolaborasi dengan Pemprov DKI Jakarta. “Inilah mengapa kami sangat senang dapat berkolaborasi lagi dengan Pemprov DKI Jakarta, bersama-sama dengan para pelaku industri. Lebih dari 1.100 liter cat Dulux Weathershield digunakan dalam pengecatan mural di tiang kolong Jalan Layang Non Tol Antasari,” jelasnya.

Jalan Layang Non Tol Antasari adalah konstruksi ikonik yang memainkan peranan penting bagi warga Jakarta karena menghubungkan area-area penting di Jakarta Selatan. “Kami berharap warga Jakarta, terutama mereka yang melewati jalan tersebut setiap hari, mendapatkan manfaat dan merasakan dampak positif dari kekuatan transformasi warna dengan menikmati lukisan mural warna-warni yang bercerita tentang seni, budaya, dan pembangunan Kota Jakarta dulu dan sekarang,” pungkas Jun. (pam)

LEAVE A REPLY