Biar Tak Masalah di Industri Hulu Migas, Utamakan HSE

0
201

Jakarta, geoenergi.co.id – Industri hulu migas sangat mengutamakan aspek Health, Safety, and Environment (HSE) dalam kegiatan operasinya. Satu standar prosedur saja tidak terpenuhi maka akan berdampak fatal pada nasib proyek dijalankan, dari timbulnya kerugian keuangan yang sangat besar, kerusakan lingkungan yang parah sampai melayangnya nyawa manusia.

Kita bisa berkaca pada peristiwa ledakan dan kebakaran yang dialami oleh drilling rig “The Deepwater Horizon” yang dipekerjakan BP di Teluk Meksiko pada 20 April 2010. Karena kejadian tersebut, lebih dari 200 juta galon minyak mentah tumpah di Teluk Meksiko selama 87 hari atau sekitar 300 ribu barel per hari. Jumlah tersebut setara dengan 1/3 produksi migas Indonesia kala itu. Ledakan pada rig tersebut menyebabkan 11 orang tewas dan 17 orang luka-luka, serta lebih dari 8000 binatang dilaporkan mati hanya dalam waktu 6 bulan setelah kejadian tersebut.

Karena itu aspek HSE sangat penting untuk terus diingatkan kepada pelaku kegiatan di industri hulu migas. “Orang safety memang beda tipis sama ustadz, kalau ustadz mengingatkan hati-hati masuk neraka, sama juga dengan orang safety yang selalu mengingatkan hati-hati celaka,” kata Mirza Mahendra, Kasubdit Keselamatan Hulu Migas Kementerian ESDM, dalam acara Oil & Gas HSE Forum: Optimasi Manajemen Keselamatan dalam Menunjang Produksi Migas Berkelanjutan yang diadakan KMI dan OG Indonesia di Jakarta, Selasa (30/10).

IMG-20181031-WA0006

Ditegaskan oleh Mirza, perilaku pelaku hulu migas di Indonesia dalam hal HSE, saat ini masih berada dalam posisi yang baru akan taat kalau ada pengawasan. “Kita baru akan taat kalau disupervisi, kalau inspektur migas datang baru mengikuti, tetapi kalau sudah tidak ada ya bisa hilang lagi,” tutur Mirza.

Karena itu kesadaran akan pentingnya HSE harus terus dibangun dan ditumbuhkan dalam diri masing-masing sehingga menjadi sebuah budaya. “Semua pasti punya manajemen keselamatan, tetapi yang tidak kita biasakan adalah budaya keselamatannya. Jadi tanpa ada yang menyuruh, tanpa adanya sign, kita sudah aware terhadap safety,” tegasnya.

Jika budaya keselamatan sudah tertanam, maka pemimpin perusahaan atau kepala HSE tak perlu lagi selalu mengingatkan akan pentingnya urusan safety. “Top management tak perlu lagi mengingatkan akan safety karena semua yang ada di organisasi sudah aware terhadap safety,” jelas Mirza seraya mengingatkan, jika safety sudah menjadi budaya maka otomatis setiap pekerjaan yang dilakukan akan menjadi lebih optimal.

Hal tersebut sangat disadari oleh Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Dikatakan oleh Andi Kurniawan, Asisten Manajer QHSE PHE ONWJ, peran leadership, kebijakan dan komitmen dari top management memang sangat diperlukan dalam membangun budaya safety di perusahaan. “Jadi ada leading from the top terkait safety program,” kata Andi.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh pihak Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO). Dikatakan oleh Ani Surakhman, Senior Manager Operation PHE WMO, bahwa perusahaannya selalu menekankan pentingnya menjalankan kegiatan operasional yang aman dan dapat diandalkan kepada sekitar 500 personel yang terlibat dalam aktivitas hulu migas di area operasi PHE WMO yang berada di sisi barat lepas pantai Pulau Madura. “Ini penting untuk memaksimalkan potensi minyak dan gas yang ada di WMO agar dapat dapat memberikan manfaat kepada stakeholder,” ucapnya. (Pam)

LEAVE A REPLY