Tingkatkan Kesiagaan Jaga Kemandirian Energi: Pertamina RU VI Gelar Simulasi Tangani Keadaan Darurat

0
186

Indramayu, geoenergi.co.id – Pertamina RU VI Balongan menggelar Major Emergency Drill Level II berupa simulasi penanganan kebakaran yang terjadi akibat bocoran pipa Naptha di area 400. Area tersebut berbatasan dengan Blok Kesambi-Desa Balongan. Simulasi dimulai pukul 08.30 WIB, kamis, (1/11).

Simulasi keadaan darurat diawali dengan kegiatan transfer naphta dari kapal MT Ratu Ruwaidah di SBM 35.000 DWT ke tangki 42-T-107 B. Namun akibat adanya kebocoran pipa line, berdampak pada menggenangnya naphta di area kolam yang berdekatan dengan pemukiman warga. Keadaan diperparah dengan terbakarnya uap minyak naptha yang menyebabkan asap membumbung tinggi dan menyebar ke pemukiman warga.

Pertamina mengerahkan mobil pemadam api dan personil terlatih untuk menghadapi keadaan darurat tersebut. Pertamina juga dibantu Tim Penanganan Keadaan Darurat dari Pertamina EP dan Terminal BBM Balongan, untuk mempercepat upaya pemadaman. Fire Station Fungsi Health Safety & Environment (Fire Fighting HSE), bergerak cepat menuju lokasi kebakaran dan melakukan pemadaman api. Pertamina RU VI juga dibantu Tim Penanganan Keadaan Darurat dari Pertamina EP dan Terminal BBM Balongan, untuk mempercepat upaya pemadaman. Koordinasi dengan aparat TNI/POLRI juga dilakukan, untuk pengamanan lokasi, agar pihak yang tidak berkepentingan tidak mendekat.

Korban yang ada juga dievakuasi ke Rumah Sakit Pertamina Balongan (RSPB) menggunakan ambulance untuk diberikan tindakan penyelamatan dan perawatan intensive. Korban luka akibat kebakaran tersebut kemudian dirujuk ke RSUD Indramayu dan RS Pertamina Cirebon.

Melihat situasi lingkungan yang tercemar minyak naphtha, dan jatuhnya korban dari warga, masyarakat yang tinggal disekitar lokasi kebakaran pun melakukan aksi unjuk rasa di depan Kilang Balongan dan menuntut RU VI untuk bertanggung jawab atas insiden yang terjadi. Dengan suasana yang kurang kondusif, ternyata ada pihak yang memanfaatkan kondisi tersebut dengan menyusup dan melakukan penyanderaan bersenjata kepada salah seorang tim manajemen Pertamina RU VI Balongan. Penyergapan dan penangkapan pun dilakukan kepada pelaku penyanderaan yang melibatkan Yonif Batalion Infantri Rider 321/Galuh Taruna Kostrad, dan berhasil melumpuhkan para teroris.

General Manager Pertamina RU VI Balongan Burhanudin mengatakan bahwa tujuan dilaksanakan simulasi penanganan keadaan darurat tersebut adalah untuk melatih pemahaman tugas dan tanggung jawab setiap fungsi terhadap kondisi emergency, sebagai implementasi pedoman Penanggulanagan Keadaan Darurat (PKD) RU VI Balongan dan Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) Refinery. Selain itu, simulasi ini juga sebagai sarana upskilling tim penanggulangan keadaan darurat dan observer di lapangan, serta implementasi MoU tim penanggulangan keadaan darurat area unit bisnis Pertamina Indramayu.

Burhanudin juga menjelaskan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja bukan hanya slogan, tapi harus ditanamkan pada setiap orang yang terlibat dalam kegiatan usaha migas (minyak dan gas bumi) sehingga dapat tumbuh menjadi budaya. Apalagi industri migas adalah industri yang berisiko tinggi, baik risiko investasi maupun risiko operasional.

Komitmen Pertamina RU VI Balongan dalam aspek K3LL (Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan) juga telah mendapat apresiasi seperti Penghargaan Subroto dari Kementerian ESDM, Penghargaan Concern Company dari World Safety Organization (WSO), Penghargaan Kecelakaan Nihil (Zero Accident Award) dan Penghargaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dari Kementerian Tenaga Kerja, Patra Nirbhaya Karya Utama Adinugraha V dari Kementerian ESDM, PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ISRS8 (International Sustainability Rating System Edition 8) Level 7, dan sebagainya. (Pqm)

LEAVE A REPLY