SHARE
Facebook
Twitter
foto: worldwildlife.org

Bogor, Geoenergi– Ancaman terhadap populasi Dugong terus meningkat dan membutuhkan perhatian mendesak untuk sebuah upaya terpadu antara pihak yang terkait serta pendekatan model konservasinya. Data dan sejumlah informasi pendukung dibutuhkan sebagai landasan ilmiah untuk menetapkan arah kebijakan jangka panjang serta merumuskan pengelolaan Dugong dan habitatnya di Indonesia,” demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Setyamurti Poerwadi, S.T, pada acara Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun 2016 dengan tema “Inisiatif Bersama untuk Pelestarian Populasi Dugong dan Habitat Lamun di Indonesia”, yang diprakarsai bersama oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan WWF Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Upaya konservasi Dugong dan habitatnya di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga didukung oleh sejumlah lembaga internasional, seperti United Nation Environment Programme-Conservation Migratory Species (UNEP-CMS) yang bekerjasama dengan Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund (MbZ) melalui program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP). DSCP merupakan program regional yang dilaksanakan di tujuh negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Mosambik, Madagaskar, Timor Leste dan Vanuatu. Selain konservasi Dugong, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendorong daerah agar menginisiasi ekosistem padang lamun sebagai habitat kunci Dugong untuk menjadi Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD).

Laju kerusakan lamun di Indonesia, khususnya padang lamun, juga berkontribusi terhadap meningkatnya ancaman terhadap kepunahan Dugong. Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai 31.000 km2. Namun data dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) menyatakan sejauh ini, baru 25.752 ha padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia. Besaran populasi Dugong yang ada di perairan Indonesia sampai dengan saat ini juga belum dapat dipastikan karena masih terbatasnya survei dan kajian populasi yang telah dilakukan, sedangkan peristiwa keterdamparan Dugong telah banyak tercatat di pelbagai lokasi pesisir nusantara.

Dirhamsyah, Kepala Pusat P2O-LIPI mengatakan, “Kondisi habitat lamun sangatmempengaruhi keberadaan Dugong, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat tumbuhan lamun dapat berkembang. Habitat Dugong sangat perlu dijaga agar tidak mengancam populasi mamalia laut ini. Kelestarian Dugong sangat terkait erat dengan keberadaan padang lamun,” ungkapnya. “Melihat fenomena penurunan populasi Dugong di Indonesia, sangat diperlukan pertukaran data dan hasil kajian yang terkait dengan Dugong dan habitatnya. Selain itu, pertemuan antara perumus kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi yang memahami Dugong dan habitat lamun sangat perlu dilakukan agar dapat menyusun rekomendasi penyelamatan populasi Dugong dan habitat lamun,” katanya.

Direktur Program Coral Triangle WWF Indonesia Wawan Ridwan menyatakan, “Minimnya data dan informasi sebaran populasi Dugong dengan tingkat ancamannya menyebabkan otoritas pengelola sulit untuk menentukan prioritas rencana aksi konservasi. Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun menjadi dasar untuk memperoleh informasi dan status terkini untuk upaya konservasi ke depan.”

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc menambahkan bahwa aksi konservasi terhadap Dugong dan habitat lamun di Indonesia perlu dikaitkan dengan peran dan fungsi strategis lamun dalam menyediakan sumber daya ikan secara berkelanjutan. “Di sanalah, kita bisa berperan sebagai pionir serta menggagas aksi konservasi yang lebih komprehensif dengan melibatkan nelayan dan pemangku kepentingan lain di kawasan pesisir, khususnya melalui Seagrass-Ecosystem Approach to Fisheries Management (Seagrass-EAFM),” tambahnya.

Forum yang dilangsungkan pada 20-21 April 2016 di IPB International Convention  Center, Bogor, ini menghadirkan para ahli untuk bersama para pihak menyusun pedoman monitoring lamun dan Dugong. Selain empat makalah kunci yang mewakili topik simposium untuk sesi parallel, telah terseleksi 49 makalah dari 74 abstrak yang didaftarkan dalam kurun waktu singkat serta dinyatakan lolos seleksi untuk dipaparkan dalam simposium. Empat topik makalah yang didiskusikan bersama para pembuat kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi, adalah (1) kelembagaan dan jejaring konservasi Dugong-lamun, (2) biologi dan populasi Dugong, (3) distribusi dan habitat pakan, serta (4) ancaman dan pemanfaatan berkelanjutan. (Pam)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY