SHARE
Facebook
Twitter
foto: istimewa

Jakarta, Geoenergi – Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan seperti tenaga matahari (surya), angin, biomassa, gelombang laut, energi air (hidro) dan panas bumi (geothermal), termasuk yang berbahan dasar limbah (pembangkit listrik berbasis limbah/ sampah). Namun saat ini, penggunaan energi terbarukan di indonesia masih sekitar 6,8 persen.

Pemerintah terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan yang mengacu pada Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025 November 2007 dan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dalam Peraturan Pemerintah No. 79 tahun 2014, yang menargetkan prosentase pemanfaatan energi terbarukan dalam bauran energi nasional minimal sebesar 23% pada 2025. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen merealisasikan penyediaan listrik sebesar 35 ribu Megawatt (MW) dan akan membangun 109 pembangkit listrik[i]dalam jangka waktu 5 tahun (2014-2019), agar seluruh masyarakat Indonesia bisa menikmati listrik.

Pengembangan energi terbarukan perlu dilakukan guna mengatasi persoalan sumber energi fosil yang semakin menipis. Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan konsumsi energi terbesar di dunia. Berdasarkan data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Outlook Energi Indonesia 2015, konsumsi energi final di Indonesia meningkat dari 778 juta Setara Barel Minyak (SBM) pada tahun 2000 menjadi 1.211 juta SBM pada tahun 2013 atau tumbuh rata-rata sebesar 3,46% per tahun.[ii]Konsumsi energi yang tinggi ini menimbulkan terjadinya pengurasan sumber daya fosil yang lebih cepat jika dibandingkan dengan penemuan cadangan baru. Jika energi terbarukan tidak segera dikembangkan dengan optimal, maka peningkatkan konsumsi tersebut akan dapat memperpendek umur ketersediaan energi di Indonesia.

Tri Mumpuni – CEO Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) saat berbicara di Media Workshop  “Renewable  Energy  & Energy Efficiency in Indonesia”, di Hotel Sultan, Kamis (9/6/2016) mengatakan, “Pertumbuhan ekonomi yang semakin baik akan meningkatkan kebutuhan energi dalam negeri dan kemampuan atau daya beli masyarakat serta akan menjadi daya tarik investasi swasta yang diperlukan dalam pembangunan sektor energi. Potensi peningkatan energi terbarukan dan efisiensi energi di Indonesia masih cukup besar serta potensi pasar energi nasional, regional dan internasional masih terbuka.”

Lebih lanjut Tri Mumpuni menyatakan, “Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak gugusan pegunungan yang dapat mengaliri mata air sebagai sumber air sungai, sehingga sangat cocok dan berpotensi untuk mengembangkan energi terbarukan mikrohidro. Aliran sungai dari pegunungan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penggerak mula dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Energi tenaga air bisa terus dikembangkan tentunya dengan dukungan pemerintah dalam pengembangan pembangkit listrik mikrohidro.”

Sebagai salah satu pelopor pengembangan energi terbarukan khususnya pembangkit listrik mikro hidro, Tri Mumpuni melalui Yayasan Institus Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), telah merancang pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) berkapasitas 2,8 MW dengan memanfaatkan aliran Sungai Cilamaya. Listrik yang dihasilkan, dialirkan untuk kebutuhan PLN. Bisnis pembangkit bertenaga hidro ini mendapat dukungan pemerintah, dengan diterbitkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 Tahun 2009 tentang harga pembelian tenaga listrik oleh PT PLN (Persero) dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi terbarukan skala kecil dan menengah.

Tri Mumpuni menambahkan, “Lebih dari 60 juta anak Indonesia belum menikmati akses listrik. Berdasarkan survei yang dilakukan IBEKA, penduduk di sekitar 33.000 desa di Indonesia masih belum mendapatkan akses listrik. Untuk itu, diharapkan semua pihak dapat sama-sama berkerjasama dan saling mendukung dalam memperbaiki kebutuhan energi nasional dengan mengoptimalkan pengembangan energi terbarukan agar seluruh wilayah di Indonesia bisa menikmati manfaat energi listrik untuk penerangan dan mendukung pembangunan khususnya di daerah-daerah terpencil dan terisolasi.” (Pam)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY