SHARE
Facebook
Twitter
foto: Pam

Jakarta, www.geoenergi.co.id – Para pekerja PT. Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) yang tergabung dalam Serikat Pekerja PDSI menyatakan sikapnya menolak dengan tegas rencana akuisisi dan privatisasi PDSI oleh PT Elnusa. SP PDSI dan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) melalui Ketua SP PDSI, Eko Hardjani, saat konferensi pers di kantor FSPPB di Jakarta, Senin (15/08). Dan, pernyataan sikap itupun telah disampaikan kepada Direktur Utama Pertamina Dwi Sutjipto dalam audiensi bersama para Direksi Pertamina.

Lebih lanjut Eko menyatakan bahwa penolakan akuisisi dan privatisasi PDSI oleh PT. Elnusa dinilai tidak memiliki value added bagi Pertamina Selain itu, dari sisi proyeksi finansial, tidak ada potensi perbedaan yang signifikan antara Elnusa mengakuisi PDSI dengan masing-masing berjalan seperti saat ini. “Dengan komposisi pendapatan Elnusa 60%-70% dari Pertamina Group (mencapai 80% adalah seismic) dan 80%-90% pendapatan PDSI adalah dari Pertamina Group maka yang ada justru hasil PDSI yang selama ini 100% kembali ke negara berpotensi akan dinikmati oleh shareholder lain,” katanya.

PDSI 2

Satu hal yang mengherankan adalah secara empiris, Elnusa telah terbukti “gagal” mengelola bisnis Drilling dan Workover-nya, imbuh Eko. “Dengan memasukkan PDSI ke dalam Elnusa, berpotensi akan mengulangi “kesalahan” yang sama. Bisnis Elnusa dan PDSI meskipun pada “kolam” yang sama namun tidak banyak bersinggungan karena portfolio terbesar Elnusa adalah seismic dan perforasi, sedangkan PDSI bergerak di bidang drilling dan workover,” papanya..

Integrasi keduanya bisa dilakukan tanpa harus melakukan penggabungan/akusisi antarentitas yang berbiaya dan berisiko tinggi. Cukup dengan cara integrasi melalui sentralisasi planning dan monitoring di Upstream Pertamina dengan cara pembentukan joint comitee PDSI dan Elnusa sebagai support.

SP PDSI dan FSPPB juga mengajukan konsep yang sebaliknya, yaitu apabila tetap dilakukan akuisi antarentitas maka akan lebih cocok bila PDSI yang menerima inbreng saham Pertamina di Elnusa. Karena kondisi yang lebih tepat saat ini adalah menguatkan internal Pertamina sebelum “bertarung” keluar. “Dengan skenario apabila kepemilikan 41% saham Elnusa oleh PDSI maka tidak ada porsi pendapatan Pertamina dari PDSI yang “lari” keluar, dan dapat menciptakan integrated services dari seismic sampai surface facility yang akan menjadi modal kuat guna merealisasikan aspirasi Pertamina 2030,” tegas Eko.

Diakuisisinya PDSI secara langsung justru akan menghambat eksekusi rencana pengeboran jangka pendek Pertamina Upstream yang notabene berpotensi menganggu aspirasi Pertamina 2030 yaitu 1 juta BOPD dari kondisi saat ini dalam negeri Termasuk akan menghambat rencana pengembangan panas bumi PGE. (Pam)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY