Produk Samping PLN Akan Dimanfaatkan Jadi Semen

0
233
FOTO: Humas PT PLN (persero)

Jakarta, 15 Maret 2018 – Demi menciptakan lingkungan yang bersih, PLN terus meningkatkan pemanfaatan penggunaan Fly Ash dan Bottom Ash sebagai produk samping PLN,Hal ini dibuktikan melalui penandatanganan MoU yang dilakukan bersama Perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni dengan PT Semen Indonesia (Persero) dan PT Semen Baturaja (Persero). Penandatanganan dilakukan di Kantor Kementerian BUMN dan disaksikan Oleh Deputi Menteri Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Edwin Hidayat Abdullah di Kantor Kementerian BUMN (15/3).

Dengan adanya kerja sama ini, nantinya produk samping PLN yakni berupa gypsum, Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) akan dipasok ke PT Semen Indonesia dan PT Semen Baturaja.

Pemanfaatannya berkontribusi menjadi gedung pencakar langit, jalan tol, dan jembatan layang. Beberapa industri semen di Indonesia tercatat sudah memasukkan fly ash dalam komposisi produksinya. Fly ash mampu menggantikan sampai 30 persen semen portland dengan kualitas dan ketahanan jauh lebih baik.

“Produk utama PLN adalah listrik dan PLN mempunyai produk samping yakni berupa gypsum, Fly Ash dan Bottom Ash, Selama ini kami biasanya memasok FABA ini ke pabrikan semen non – BUMN, jadi kami berfikir untuk mengembangkannya dengan cara bekerjasama dengan saudara sendiri ( sesama BUMN). Diharapkan dengan kerjasama ini selain bisa memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, terpenting adalah bisa mensupport lingkungan.,” kata Direktur Human Capital Management PLN Muhamad Ali

Ali menambahkan bottom ash bisa digunakan oleh pabrik semen pada proses produksi awal. Sedangkan fly ash, bisa dicampurkan pada produk akhir semen. “Perusahaan semen kan harus ambil kapur dari gunung. Nah, kalau pakai dari bottom ash-nya akan mengurangi penggunaan kapur dari gunung. Kalau itu bisa dimanfaatkan dengan bagus, tadi 5,2 juta ton/tahun (FABA) pasti akan membantu kelestarian lingkungan.

Sementara itu menurut Edwin Abdullah Penandatanganan nota kesepahaman ini dilaksanakan dalam rangka untuk mewujudkan sinergi di bidang usaha energi, logistik, kawasan dan pariwisata dimana BUMN sebagai agent of development memiliki posisi penting dan strategis dalam pembangunan nasional, antara lain melalui perannya sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional, motor penggerak pembangunan serta berperan dalam program-program ekonomi kerakyatan.

“BUMN sebagai agen pembangunan berperan besar dalam menyukseskan berbagai program pemerintah, khususnya di bidang ekonomi kerakyatan, antara lain penurunan harga semen di Papua dimana harga sebelumnya adalah Rp2 juta menjadi Rp500 ribu per sak, pemberdayaan petani melalui pembuatan Kartu Tani yang memberikan subsidi langsung kepada 2,7 juta petani pemilik kartu, maupun di sektor ketenagalistrikan, dimana rasio elektrifikasi mengalami peningkatan pesat dari 84% menjadi 93% di tahun 2014 dan lebih dari 70 ribu desa telah mendapatkan pasokan listrik,” terang Edwin seusai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman.

Tidak ingin berhenti sampai dengan penandatanganan nota kesepahaman ini, Edwin berharap implementasinya segera ditindaklanjuti dalam bentuk kontrak-kontrak yang lebih konkret dan dapat memunculkan lebih banyak lagi bentuk sinergi antar BUMN dan anak perusahaan BUMN. (pam)

LEAVE A REPLY