Tour de Lombok Mandalika 2018 Ajang Lomba plus Wisata

0
263

Mataram, geoenergi.co.id – Tour de Lombok Mandalika (TDLM) 2018 berlangsung semarak. TDLM berlangsung selama tiga hari, mulai dari Jumat (13/4) hingga Minggu (15/4) yang terbagi dalam tiga etape.

Etape pertama sejauh 84,4 kilometer (km) untuk rute Pantai Kuta Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah menuju depan Kantor Gubernur NTB di Jalan Pejanggik, Kota Mataram berlangsung sukses pada Jumat (13/3).

Sebanyak 86 pembalap yang terbagi atas 18 tim dari 24 negara bersaing ketat menjadi yang tercepat pada etape pertama. Pembalap asal Eritrea, Metkel Eyob menjadi yang tercepat. Metkel yang menjadi bagian dari tim Trengganu Cycling Club mencatatkan waktu tercepat dengan 1 jam 52 menit dan 14 detik dalam rute sejauh 88,4 Km, disusul Uni Emirat Arab (UEA) dari Tim UEA, Yousif Mohammed Ahmed Mirza Al Hamadi dengan catatan waktu 1:52:15 atau beda satu detik, dan pembalap Singapura, Choon Huat Goh dari tim Trengganu Cycling Club di peringkat ketiga dengan waktu 1:52:20.

Untuk Indonesia mengirimkan tiga pembalapnya di 10 besar. Robin Manulang dari PGN Road Cycling Team bertengger di posisi kelima dengan catatan waktu 1:52:24, disusul Aiman Cahyadi dari Team Sapura Cycling di peringkat keenam dengan catatan 1:52:27. Sementara Abdul Gani dari KFC Cycling Team menempati posisi 10 dengan catatan 1.53.44.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memberikan apresiasi atas langkah Pemprov NTB melalui Dinas Pariwisata NTB bersama Pengurus Besar Ikatan Sepeda Sport Indonesia (PB ISSI) yang menyelenggarakan ajang TDLM 2018.

Menurut Kepala bidang Promosi Area II Regional III Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Florida Pardosi ajang balap sepeda berstandar internasional seperti ini memiliki potensi besar mengenalkan Lombok di kancah dunia.

“(Tour de Lombok Mandalika) ajang sport tourism yang luar biasa dampaknya untuk promosikan wisata Lombok,” ujar Florida di lokasi finish etape pertama di depan Kantor Gubernur NTB, Jalan Pejanggik, Kota Mataram, NTB, Jumat (13/4).

Florida menerangkan, banyaknya pembalap dari luar negeri mendorong citra Lombok sebagai destinasi sport tourism semakin menggaung. Dengan ini tentunya para pembalap akan memberikan kesan positif selama berada di Lombok kepada keluarga, teman-teman, dan penggemar sepeda di negaranya masing-masing.

Kata Florida, ajang sport tourism seperti ini juga memiliki dampak bagi peningkatan kunjungan wisatawan mengingat kedatangan pembalap biasanya diikuti rombongan tim dan juga keluarganya. Berhubung Tour de Lombok Mandalika masih akan berlangsung hingga Minggu (15/4), Florida menekankan panitia memberikan kenyamanan dan keamanan yang baik kepada para pembalap.

“Yang paling penting bagaimana kita berikan rasa aman dan nyaman. Siapkan juga atraksi dan destinasi dengan baik sehingga semakin lama tinggal di sini,” kata Florida.

Metkel Eyob yang menjadi pembalap tercepat pada etape pertama mengaku terpesona dengan keindahan alam Lombok. Metkel yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Seribu Masjid ini mengaku kagum dengan panorama alam yang ditawarkan sepanjang perjalanan dari Pantai Kuta Mandalika hingga Mataram, Metkel disuguhkan pemandangan alam dari Pulau Seribu Masjid yang menurutnya sangat mengagumkan.

“Alamnya Lombok indah, harapannya bisa kembali lagi suatu saat nanti,” kata Metkel.

Metkel sendiri tidak menyangka bisa menjadi yang tercepat mengingat ini pertama kalinya turun bersepeda di Lombok. Metkel mengaku cukup terkejut dengan medan di Lombok yang sangat menantang karena penuh tanjakan dan tikungan tajam.

“Tantangannya cukup sulit karena medannya yang tidak mudah,” ucap Metkel.

Metkel ingin mengulang torehan apiknya di etape kedua Tour de Lombok Mandalika (TdLM) 2018.

Pembalap dari Banyuwangi Road Cycling Club (BRCC) Zein Habibi juga tak kalah penasaran dengan medan di Lombok. Zein sengaja ikut serta dalam TdLM 2018 untuk merasakan sensasi rute alam Lombok.

Zein menilai TDLM 2018 cukup menantang dan menghadirkan medan tidak biasa karena melintasi sejumlah tanjakan, areal perbukitan, perkotaan, dan persawahan hijau di Lombok.

“Ini baru pertama kali kita ikut, karena rutenya menantang dan banyak tanjakan,” ujar Zein.

Kehadiran pembalap internasional menjadi alasan lain bagi BRCC untuk mengikuti TdLM 2018. Kata Zein, timnya tidak menargetkan hasil yang terlalu tinggi mengingat merupakan pendatang baru dalam TdLM 2018. Beberapa pembalap sendiri telah mengikuti TdLM 2017 sehingga lebih difavoritkan keluar sebagai juara.

“Karena masih baru target enggak muluk-muluk karena saingannya banyak yang hebat-hebat, yang penting overall target tiga etape bisa tercapai,” lanjut Zein.

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal menyampaikan, TDLM 2018 memiliki dampak yang sangat positif bagi citra pariwisata NTB.

Penyelenggaraan TDLM 2018 menjadi salah satu bentuk promosi bagi wisata olahraga atau sport tourism di Lombok.

Pada mulanya, panitia hanya menetapkan 16 tim yang akan berlaga. Namun, ada dua tim lagi dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Korea Selatan (Korsel) yang tidak ingin ketinggalan mengikuti TdLM 2018.

“Dampak dari penyelenggaraan ini terhadap promosi kita sangat bagus,” kata Faozal.

Faozal melanjutkan, dua tim bahkan memilih datang lebih dahulu untuk mengetahui kondisi lapangan. Faozal berharap para peserta juga bisa membantu mengenalkan Lombok saat kembali ke negara masing-masing.

TDLM 2018 sendiri akan melintasi seluruh kabupaten/kota yang ada di Pulau Lombok, mulai dari Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara, hingga Kota Mataram. Di setiap perjalanan, para pembalap akan melewati sejumlah destinasi wisata yang ada di Pulau Seribu Masjid, mulai dari Pantai Kuta Mandalika, Desa Adat Sade dan Ende, Kompleks Islamic Center NTB, Pantai Senggigi, Desa Sembalun di Kaki Gunung Rinjani, dan kawasan Kota Tua Ampenan.

Untuk etape kedua, rute Mataram-Sembalun, para peserta juga akan melintasi kawasan Hutan Pusuk, yang berada di bentangan kaki Gunung Rinjani di sebelah barat. Dari ketinggian hutan pusuk yang sekitar 831 mdpl, pembalap bisa menikmati panorama alam Lombok yang begitu memanjakan mata, mulai dari pemandangan tiga gili Trawangan, Meno dan Air, tebing yang curam, pegunungan yang menghijau dan juga keindahan pesisir pantai Lombok Utara. Hutan Pusuk juga dikenal sebagai Hutan Monyet lantaran begitu banyak ditemukan monyet-monyet jinak di sepanjang jalan saat melintasi kawasan ini.

Pada etape kedua, sebanyak 15 pembalap tidak bisa mengikuti lantaran dua pembalap mengalami cedera dan 13 pembalap gagal finish pada etape pertama. (Pam/ foto: ist)

LEAVE A REPLY