Premium Masih Dibutuhkan Masyarakat Ekonomi Lemah

0
755
foto: istimewa

Jakarta, geoenergi.co.id –
Pemerintah harus dapat menjamin ketahanan sumber daya dan tersedianya kebutuhan energi bagi warganya di seluruh nusantara dengan harga terjangkau.

Dan menurut Direktur Energy Watch, Mamit Setiawan, alasan keterjangkauan baik dari sisi harga maupun ketersediaan menjadikan Premium (bensin RON 88) saat ini masih menjadi primadona masyarakat miskin.

“Premium masih dibutuhkan untuk menjangkau masyarakat yang betul-betul miskin, menggerakkan ekonomi rakyat. Jadi harus tetap ada hingga ekonomi meningkat nantinya,” kata Mamit kepada wartawan di Jakarta, Jumat (24/11).

Lebih lanjut Mamit mengungkapkan fakta saat ke daerah akan ditemui masih banyaknya nelayan yang menggunakan Premium dan Solar. “Jangan lupakan juga para buruh yang kesehariannya banyak menggunakan sepeda motor. Selain itu, transportasi umum juga masih banyak yang menggunakan Premium dan Solar sebagai bahan bakar yang bersahabat bagi rakyat,” paparnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2017, sebanyak 27,77 juta jiwa masyarakat atau 10,64% masyarakat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan per kapita di bawah Rp 385.000 per bulan. Sebanyak 17,1 juta di antaranya adalah masyarakat pedesaan yang sebagian besar menghuni daerah-daerah terdepan yang sulit dijangkau.

Oleh karenanya, Mamit pun mendukung program BBM Satu Harga, sebuah program prorakyat yang dicanangkan Presiden Jokowi yang menyediakan BBM dengan harga sama hingga di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

“Sudah seharusnya semua masyarakat bisa menikmati harga Premium sebesar Rp 6.450 perliter dan Solar Rp 5.150 perliter,” tegas Mamit.

Tak bisa dipungkiri, masih banyak rakyat yang memakai Premium, karena celah harga antara BBM jenis lain seperti Pertamax dengan Premium cukup jauh. Bukan karena memang mereka ingin memakai Premium, jika ada kualitas yang lebih baik dengan harga terjangkau, masyarakat pasti akan membelinya.

Dari sisi teknis, premium juga masih diproduksi oleh sebagian besar kilang milik Pertamina. “Kemampuan kilang-kilang kita masih terbatas untuk memenuhi semua kebutuhan bahan bakar masyarakat, wajar bila premium masih diproduksi dalam jumlah besar karena spek kilang di kita itu spek untuk menghasilkan premium,” jelas Mamit.

Sekadar info, premium diproduksi di Refinery Unit (RU)II Dumai – Sungai Pakning, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan dan RU VII Sorong, bahkan kilang RU VII Sorong, hanya memproduksi bahan bakar jenis premium. (Pam)

LEAVE A REPLY