Inovasi Tanki Petik Efisiensi Lebih Rp 1,1 Miliar

0
92
foto: istimewa

Jakarta, geoenergi.co.id – Rendahnya harga minyak dunia, masih menjadi tantangan terbesar bagi perusahaan penyedia jasa pengeboran seperti Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI). Anak perusahaan Pertamina yang pada 13 Juni 2017 mendatang akan berusia sembilan tahun ini, harus mampu terus berlayar di tengah badai krisis yang belum bisa diprediksi kapan akan berhenti. Kenyataan ini memaksa kreativitas manajemen PDSI untuk berimprovisasi, mencari celah dan cara agar bisa mempertahankan keberlangsungan usaha, serta tetap bisa tumbuh berkelanjutan. Sejalan dengan arahan Direktur Hulu agar anak perusahaan meningkatkan free cash flow sebagai bagian dari strategi bertahan terhadap penurunan harga minyak, maka manajemen PDSI meluncurkan delapan inisiatif yang telah dijalankan sejak 2016 lalu, yakni (1) Keselamatan sebagai prioritas utama; (2) Efisiensi di seluruh lini organisasi; (3) Menjaga asset idle dalam kondisi siap kerja; (4) optimalisasi pendapatan; (5) Mengembangkan teknologi dan inovasi untuk menciptakan keunikan produk (uniqueness); (6) Stakeholder engagement; (7) Membangun organisasi yang efektif; serta (8) Membangun kompetensi internal.

Kedelapan inisiatif yang digagas manajemen PDSI direspon dengan sangat baik oleh seluruh pekerja PDSI, baik yang betugas di Kantor Pusat, Jakarta maupun para laskar ujung tombak PDSI yang berjibaku di lokasi-lokasi pengeboran. Ambil contoh inisiatif dalam hal mencari terobosan dan inovasi. Hingga saat ini pekerja PDSI sudah menciptakan aneka inovasi guna meningkatkan efisiensi dan menekan pengeluaran, baik anggaran investasi maupun operasi. Tujuan akhirnya, tentu bermuara pada optimalisasi pendapatan perusahaan. Salah satu inovasi apik yang dengan cerdik dilakukan adalah rekayasa desain system tanki lumpur (mud tank) di RIG PDSI#38.2/D1000-E. “Latar belakang terciptanya inovasi tersebut ka­rena adanya voice of customer mengenai kinerja peralatan solid control equipment (system mud tank) yang berfungsi sebagai penjaga kualitas propertis lumpur pengeboran berjalan tidak optimal,”ucap Afriansyah, Rig Superintendent PDSI.

Menurut Afriansyah, systemmud tank memiliki peranan penting dalam proses pengkondisian lumpur pengeboran. Apabila system pada mud tank tidak bekerja dengan optimal maka akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan maupun klien. Kerugian bagi perusahaan adalah konsumsi sparepart mud screen yang meningkat sehingga biaya operasional secara equivalent juga akan membengkak. Sementara di pihak klien, adanya potensi tambahan biaya untuk melakukan perbaikan properties lumpur pengeboran di luar program pengeboran. Selain itu, hal tersebut juga akan meningkatkan potensi pencemaran lingkungan akibat kegiatan dumping lumpur pengeboran yang dilakukan untuk perbaikan lumpur dimaksud.

“Artinya, PDSI memiliki peran apabila terjadi pencemaran akibat kegiatan dumping lumpur. Hal ini bertolak belakang dengan program Green Drilling yang dicanangkan oleh manajemen PDSI,” terang Afriansyah.

Maka untuk mengatasi masalah tersebut, engineer PDSI membuat rekayasa desain system mud tank pada rig PDSI #38.2/D1000-E yang tengah bekerja di lokasi RDG-PC, Bongas, Kabupaten Majalengka (Jawa Barat). Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam proses inovasi ini, meliputi: (1) memperpanjang laju pengendapan lumpur pengeboran dengan menambah komponen gumbo trap sebelum shale shaker, (2) menambah settling tank tambahan yang mengadopsi metode aliran berkelok-kelok (koagulasi) setelah tanki sandtrap sehingga laju endapan lumpur pengeboran lebih maksimal, dan (3) memisahkan line hisap degaser dan desander agar pemisahan lumpur dan serbuk bor (cutting) atau low gravity solid (LGS) berjalan lebih optimal.

Pelaksanaan inovasi perekayasaan system mud tank tersebut memakan waktu selama 5 bulan (Maret 2016 – Juli 2016). Pengerjaannya dilakukan secara mandiri dan diinspeksi langsung oleh QC engineer internal PDSI untuk memastikan hasil pekerjaan sesuai standar mulai dari fase design, fabrikasi, hingga instalasi. Hasilnya, perusahaan mampu menekan konsumsi sparepart mud screen sebesar 55%. Selain itu kinerja Solid Control Equipment (SCE) menjadi lebih optimal. “Berkat inovasi tersebut, kami mampu memetik efisiensi sebesar Rp. 1.131.591.684 atau US$ 83.821.60,” imbuh Afriansyah menyiratkan rasa syukurnya.

Diakui Afriansyah, berbagai kendala juga sempat dialami para engineer PDSI saat proses pengerjaan namun dengan ketekunan, sinergisitas, dan kekompakan tim hal tersebut dapat diatasi. Beberapa kendala yang menonjol, antara lain: (1) minimnya anggaran untuk fabrikasi, (2) ketersediaan buku atau jurnal/makalah sebagai acuan referensi sangat sedikit, dan (3) engineer yang paham tentang design SCE agar tampil optimal masih terbatas. Di samping itu, tambah Afriansyah, keterbatasan bantuan tenaga welder dan tambahan mesin las sehingga penyusunan schedule fabrikasi harus dilakukan secara cermat.

Sedangkan dari sisi HSE, pengawasan extra wajib dilakukan mengingat kondisi confined space di dalam mud tank, serta memastikan sudah tidak ada gas yang terjebak sehingga proses pengelasan oleh welder berjalan lancar. “Semua potensi kendala itu sudah dipetakan sejak awal, sehingga hal tersebut bisa teratasi dengan baik,” aku Afriansyah.

Berdasarkan kesuksesan inovasi tersebut jajaran PDSI mem­peroleh lesson learn, bahwa rekayasa sistem mud tank dapat menjadi solusi bagi drilling rig yang memiliki permasalahan sama, terutama untuk Drilling Rig Cyber NOV yang memiliki desain awal mud tank, minimalis. “Hingga sekarang, inovasi ini sudah di implementasikan pa­da dua rig lain, yaitu Rig PDSI 28.2/D1000-E dan Rig PDSI 31.3/D1500-E,” pungkas Afriansyah mengakhiri pembicaraan. (pertamina/pam)

LEAVE A REPLY