ENGIE & EVI Penuhi Kebutuhan Listrik di Papua

0
996

Jakarta, geoenergi.co.id – ENGIE, salah satu pemimpin energi dunia, baru saja menandatangani perjanjian kemitraan usaha dengan Electric Vine Industries (EVI). EVI merupakan pengembang jaringan mikro swasta yang berkomitmen untuk menyediakan akses energi berkelanjutan dan meningkatkan peluang untuk menghasilkan pendapatan kepada rumah tangga yang tidak dialiri listrik di seluruh Asia Tenggara.

Kolaborasi ini bertujuan untuk mengembangkan, mendanai, membangun, mengoperasikan dan mengelola jaringan mikro fotovoltaik cerdas guna melayani sekitar 2.5 juta penduduk di seluruh Propinsi
Papua dengan menyediakan listrik terbarukan selama 24 jam per-hari 7 hari seminggu untuk 3.000 desa
selama periode 20 tahun. Guna memudahkan pengguna layanan, pembayaran dapat dilakukan melalui
telepon genggam. Total investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai 240 juta Dollar AS selama lima tahun ke depan.

Disampaikan oleh Didier Holleaux, Wakil Presiden Eksekutif ENGIE Group, “Proyek ini sangat sesuai
dengan strategi dan visi ENGIE Group. Kami ingin menjadi pelopor di dunia energi baru melalui upaya
inovasi bersama dan kemitraan, merancang dan mengembangkan model energi baru yang telah terdekarbonisasi, terdigitalisasi, dan terdesentralisasi guna meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat serta mendukung peluang pertumbuhan bagi bisnis dan komunitas sekitar”.
Foto 4

“Kemitraan ini merupakan langkah yang sangat besar untuk EVI, khususnya terkait upaya kami dalam
menyediakan listrik bagi daerah-daerah terpencil di Indonesia. Saat ini kami didukung oleh ENGIE, yang
merupakan produsen listrik independen terbesar di dunia, kami sangat antusias dengan dukungan
tersebut khususnya terkait mewujudkan proyek ini,” ungkap Bryse Gaboury, Co-Founder dan CEO Electric Vine Industries.

Saat ini EVI telah mengoperasikan jaringan mikro percontohan sejak Maret 2015 di Papua dan berhasil
menyediakan listrik untuk 24 jam per hari selama 7 hari seminggu kepada 250 orang masyarakat sekitar
sejak dua tahun terakhir. Hal ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya
dimana ketersediaan listrik hanya selama tiga jam per-malam. Dengan terpenuhinya kebutuhan listrik,
bukan saja hanya mendukung kebutuhan dasar yang diperlukan masyarakat desa, namun juga
memberikan peluang baru untuk mendapatkan penghasilan.

Fredrik Felle, salah satu penerima manfaat proyek ini menyampaikan, “Dulu kami hidup dalam kegelapan, tapi dengan jaringan mikro tenaga surya ini kini kami dapat menikmati semua energi yang kami butuhkan. Melalui listrik dari EVI, saat ini kita bisa menggunakan kulkas sebagai mata pencaharian, khususnya dengan menjual es batu dan es krim.”

Proyek ini merupakan bagian dari dukungan kami dalam mewujudkan target pemerintah untuk memenuhi
100% elektrifikasi di seluruh Indonesia pada tahun 2020. Proyek ini mendapatkan dukungan penuh dari
pemerintah daerah terkait, dimana pelaksanaan proyek diatur oleh Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral No. 38 Tahun 2016 mengenai “Percepatan Elektrifikasi di Pedesaan Belum Berkembang,
Terpencil, Perbatasan dan Pulau Kecil Berpenduduk melalui Pelaksanaan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Skala Kecil”. Saat ini, Papua memiliki rasio elektrifikasi terendah bila dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia.

Proyek kemitraan ini menujukkan komitmen ENGIE dalam berkontribusi pada pembangunan ekonomi
Indonesia melalui akses energi berkelanjutan dan elektrifikasi pedesaan. Saat ini ENGIE juga telah
memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi suhu tinggi di Muara Laboh, yang
merupakan proyek terbarukan ENGIE Group pertama di Indonesia dan juga pertama di dunia.(pam)

LEAVE A REPLY